Wednesday, September 16, 2015

HAEMOPHILUS INFLUENZAE TYPE B



HAEMOPHILUS INFLUENZAE TYPE B

Haemophilus influenzae type B menyebabkan HIB, meningitis atau radang selaput otak dan radang paru (pneumonia).

Bakteri ini sangat menular dan menimbulkan kesakitan, bahkan kematian, Terutama pada balita.

Bakteri ini tergolong sangat berbahaya, karena, meskipun pasien bisa disembuhkan, tapi kemungkinan besar akan ada gangguan. Efek HIB yang terlihat adalah gangguan pada pendengaran, gangguan mental, bahkan gangguan otak.

Penyakit yang disebabkan bakteri HIB tak memiliki gejala yang spesifik. Seseorang bisa diketahui terkena penyakit ini setelah terjadi kerusakan pada selaput saluran pernapasan. Kerusakan itu ditandai dengan timbulnya demam, rinitis, sakit tenggorokan, batuk, lelah, nyeri otot dan kepala, muntah, serta diare.



PENYAKITNYA

1. Haemophilus influenzae type B (HIB)

Haemophilus influenzae type B (HIB) adalah penyakit yang disebabkan bakteri HIB.

Penyakit ini baru sekitar 50 tahun terakhir dikenal sebagai salah satu gangguan kesehatan. Penularan penyakit ini melalui udara dan kontak langsung dengan penderita.
Tampilan diperbesar, klik gambar lalu seret untuk memindahkannya.


His R side looks like it has the most attention, but it was his L wrist & L knee he had surgery on twice this week for the Haemophilus Influenza (HIB)


2. MENINGITIS PURULENTA

Meningitis purulenta adalah radang bernanah araknoid dan piamater yang meliputi otak dan medula spinalis.

Laporan dari Asia menunjukkan bahwa HIB merupakan penyebab terpenting pada kasus meningitis. Di Indonesia, HIB ditemukan pada 33 persen di antara kasus meningitis. Pada penelitian selanjutnya, ditemukan sebesar 38 persen HIB sebagai penyebab meningitis pada bayi dan anak berusia kurang dari lima tahun. HIB mengakibatkan sedikitnya 400 ribu sampai 700 ribu anak meninggal setiap tahunnya karena penyakit ini.





This little boy is suffering with meningitis and malaria. In many instances, the nurses at the hospital begin malaria treatment even before diagnosis because it is so common -- early treatment can prevent life-long brain injury and other disorders.



This baby undergoes a spinal tap for meningitis



5 yr-old boy having hospital treatment for meningitis


Gejala:                  

§     demam tinggi,
§     menggigil,
§     nyeri kepala yang terus-menerus,
§     kaku kuduk,
§     kesadaran menurun,
§     mual dan muntah ---hilangnya nafsu makan,
§     kelemahan umum,
§     rasa nyeri pada punggung serta sendi.

Pada bayi gejala dan tanda penyakit meningitis mungkin sangatlah sulit diketahui, namun umumnya bayi akan tampak lemah dan pendiam (tidak aktif), gemetaran, muntah dan enggan menyusui.

Anak yang lebih tua dan dewasa dapat menjadi mudah tersinggung, linglung dan sangat mengantuk. Bisa berkembang menjadi stupro, koma dan akhirnya meninggal.

Penderita dewasa menjadi sangat sakit dalam waktu 24 jam, sedangkan anak-anak lebih cepat.

Klasifikasi:

Berdasarkan lapisan selaput otak yang mengalami radang,dibagi menjadi:
1.            Pakimeningitis         : yang mengalami radang adalah durameter
2.            leptomeningitis         : yang mengalami radang adalah araknoid dan piameter.


Diagnosis:

Pada meningitis purulenta perlu dilakukan pemeriksaan berikut yaitu:

·                     pemeriksaan cairan otak
·                     pemeriksaan antigen bakteri pada cairan otak
·                     pemeriksaan darah tepi
·                     pemeriksaan elektrolit darah dan biakan
·                     test kepekaan sumber infeksi
·                     pemeriksaan radiologik
·                     pemeriksaan EEG







Tampilan diperbesar, klik gambar lalu seret untuk memindahkannya.
On the left extremely purulent spinal fluid (meningitis)

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Untuk menentukan penyebabnya, dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI kepala, yang diikuti dengan pemeriksaan pungsi lumbal dan cairan serebrospinal. Biasanya dilakukan pemeriksaan Jumlah sel darah putih di dalam cairan serebrospinal lebih tinggi daripada normal, tetapi biasanya lebih rendah dibandingkan dengan pada meningitis bakterialis, serta mengandung populasi sel darah putih yang berbeda (lebih banyak limfosit).

Sebuah jarum kecil dimasukkan diantara 2 tulang pada kolumna spinalis bagian bawah dan diambil contoh cairan serebrospinal. Cairan diperiksa dibawah mikroskop dan dibiakkan. Untuk membantu menentukan jenis infeksi, juga dilakukan pemeriksaan kadar gula, protein serta jumlah dan jenis sel darah putih di dalam cairan serebrospinal.

Untuk memperkuat diagnosis, juga dilakukan pembiakan dari contoh darah, air kemih, lendir hidung dan tenggorokan serta nanah dari infeksi kulit.





Pengobatan:

Meningitis yang disebabkan Haemophylus influenzae di obati dengan pemberian:

ü    Kombinasi ampisilin 12-18 gram dan kloramfenikol 4 gram.
ü    Kloramfenikol disuntikkan intravena 30 menit setelah ampisilin.
ü    Lama pengobatan minimal 10 hari.Dan satu hari diminum 4 kali.
ü    Bila pasien alergis terhadap penisilin,berikan kloramfenikol saja


Pencegahan:

Upaya pencegahan yang paling efektif adalah dengan memberikan imunisasi HIB sedini mungkin secara lengkap. Imunisasi ini diberikan sejak usia di atas dua sampai 15 bulan untuk memberikan perlindungan optimal dari penyakit ini.

Salah satu produk vaksin HIB adalah Hiberix. Produk vaksin dari Glaxo Smith Kline ini digunakan sejak tahun 1996 dan berefek samping minimal pada bayi.

Pemberian Imunisasi vaksin (vaccine) Meningitis merupakan tindakan yang tepat terutama didaerah yang diketahui rentan terkena wabah meningitis, adapun vaccine yang telah dikenal sebagai pencegahan terhadap meningitis diantaranya adalah ;

v    Haemophilus influenzae type b (Hib)
v    Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7)
v    Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV)
v    Meningococcal conjugate vaccine (MCV4)


3. PNEUMONIA

Pneumonia adalah peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus maupun jamur.
Beberapa orang yang rentan (mudah terkena) pneumonia adalah:
1.            Peminum alkohol
2.            Perokok
3.            Penderita diabetes
4.            Penderita gagal jantung
5.            Penderita penyakit paru obstruktif menahun
6.            Gangguan sistem kekebalan karena obat tertentu (penderita kanker,     penerima organ cangkokan)
7.            Gangguan sistem kekebalan karena penyakit (penderita AIDS).

Gejala:

Gejala-gejala yang biasa ditemukan adalah:

  • batuk berdahak (dahaknya seperti lendir, kehijauan atau seperti nanah)
  • nyeri dada (bisa tajam atau tumpul dan bertambah hebat jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk)
  • menggigil
  • demam
  • mudah merasa lelah
  • sesak nafas
  • sakit kepala
  • nafsu makan berkurang
  • mual dan muntah
  • merasa tidak enak badan
  • kekakuan sendi
o   kekakuan otot.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

  • kulit lembab
  • batuk darah
  • pernafasan yang cepat
  • cemas, stres, tegang
  • nyeri perut.

Diagnosa:
Pada pemeriksaan dada dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki.

Pemeriksaan penunjang:
  Rontgen dada
  Pembiakan dahak
  Hitung jenis darah
  Gas darah arteri


Pengobatan:

Kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat, bisa diberikan antibiotik per-oral (lewat mulut) dan tetap tinggal di rumah.
 

Penderita yang lebih tua dan penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau paru-paru lainnya, harus dirawat dan antibiotik diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen tambahan, cairan intravena dan alat bantu nafas mekanik.

Kebanyakan penderita akan memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2 minggu.

Pencegahan:
Untuk orang-orang yang rentan terhadap pneumonia, latihan bernafas dalam dan terapi untuk membuang dahak, bisa membantu mencegah terjadinya pneumonia.

Vaksinasi bisa membantu mencegah beberapa jenis pneumonia pada anak-anak dan orang dewasa yang beresiko tinggi:
ü  Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena Streptococcus pneumoniae)
ü  Vaksin flu
ü  Vaksin Hib (untuk mencegah pneumonia karena Haemophilus influenzae type b).






No comments:

Post a Comment